Al Aadiyaat (1-11) PDF Cetak Surel
Ditulis oleh admin   
Kamis, 03 Desember 2009 03:59

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan meringkik. (1) Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan. (2) Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. (3) Maka dia menerbangkan debu. (4) Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (5) Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tisak berterima kasih kepada Tuhannya. (6) Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan keingkarannya. (7) Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (8) Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang di dalam kubur. (9) Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. (10) Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. (11)

Allah SWT bersumpah dengan kuda yang apabila digunakan di jalan-Nya maka dia akan berlari dan meringkik. “Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan,” yaitu gesekan sepatu kuda dengan bebatuan, kemudian mengeluarkan percikan api. “Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.” Yakni, penyerbuan di waktu shubuh. Dikatakan, “Rasulullah saw, melakukan penyerangan di waktu shubuh. Beliau mendengar azan. Bila dia mendengar, beliau tidak menyerang. Bila tidak, beliau menyerang lagi.”
Firman Allah Ta’ala, “Maka dia menerbangkan debu,” yaitu debu yang beterbangan di tengah-tengah pergolakan kuda-kuda. “Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” yaitu kuda-kuda tersebut, semuanya, berkumpul di tengah-tengah medan. Diriwayatkan dari Ali bahwa yang diceritakan oleh ayat ini adalah unta, bukan kuda. Namun diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa semua itu adalah kuda. Pandangan Ibnu Abbas ini terdengar oleh Ali, kemudian beliau mengatakan, “Kita belum mempunyai kuda ketika Perang Badar. Dan pada waktu itu kita hanya punya dua ekor kuda, satu ekor kepunyaan Zubair dan satu ekor lagi kepunyaan Miqdad. Maka bagaimana mungkin terjadi serbuan dan ringkikan. Sesungguhnya penyerbuan dan ringkikan itu adalah perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah, dan bila mereka telah sampai di Muzdalifah maka segeralah mereka menyalakan api.” Ibnu Abbas berkata, “Aku pun segera mencabut perkataanku dan kembali kepada pendapat yang telah dikatakan oleh Ali r.a.” Ibnu Jarir mengatakan, “Namun yang benar adalah kuda, ketika dia memercikan api dengan ladamnya.” 1

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” Yaitu, sesungguhnya manusia itu terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhannya sangat ingkar dan membangkang. Yang dimaksud dengan al-kanud adalah kufur. Hasan mengatakan, “Dia adalah orang yang ketika ditimpa musibah kemudian diselamatkan Allah, kemudian lupa terhadap nikmat yang telah diberikan itu.” “Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan keingkarannya.” Yaitu, walaupun manusia itu benar-benar kufur, sebenarnya dia menyaksikan kenikmatan itu melalui tindakkannya. Firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya dia sangat bekhil karena cintanya kepada harta.” Yaitu, kecintaannya terhadap harta sangat hebat. Atau, dia adalah seorangg yag sangat rakus sekali sehingga dia menjadi kikir, saking cintanya terhadap harta. Dan, kedua penafsiran ini adalah benar.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman agar berzuhud terhadap kehidupan duniawi dan menggemari akhirat, “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang di dalam kubur.” Yaitu, mengeluarkan mayat-mayat yang terdapat di dalamnya. “Dan dilahirkan apa yang di dalam dada.” Ibnu Abbas r.a. dan yang lain menafsirkan, “yaitu menampakkan dan menzahirkan sesuatu yang pernah mereka rahasiakan dalam hati-hati mereka.” Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” Yaitu, Maha Mengetahui semua amal yang telah mereka lakukan dan perbuat, kemudian Dia akan memberikan balasannya kepada mereka dengan balasan yang sempurna. Dia tidak akan berbuat zalim walaupun seberat dzarrah.

Demikianlah ringkasan tafsir surah al-Aadiyaat. Segala puji dan kenikmatan hanyalah milik Allah semata.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

1 Kami sependapat dengan Ibnu Abbas r.a. bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah kuda, walaupun Ibnu Abbas r.a. sendiri telah mencabut pendapatnya dan merujuk pendapat Ali yang mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah unta. Sebab bila kita mengatakan unta, yang ketika pagi bertolak dari Arafah ke Muzdalifah, ini merupakan pendeskripsian yang bertentangan dengan pendeskripsian yang ditunjukan oleh ayat itu sendiri karena alas an berikut:
a.    Sebab unta itu tidak dapat memercikan api dengan tapal-tapalnya.
b.    Bertolak dari Arafah ke Muzdalifah itu hanyalah dilakukan ketika matahari terbenam, sedangkan ayat di atas menyatakan, “dan yang menyerah tiba-tiba di waktu pagi.”
c.    Adapun penafsiran ayat “dan yang mencetuskan api dengan pukulan” dengan “orang-orang yang bila mereka telah sampai di Muzdalifah, mereka pun kemudian menyalakan

api”,      maka ayat tersebut justru menyatakan dengan fal muryati qadhan, yaitu dengan da’nits. Kalau benar yang dimaksud adalah orang-orang, tentu akan dikatakan fal

muuriina qadhan, dengan mudzakar.
d.    Firman Allah Ta’ala, “Dan yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi” menunjukkan bagaimana cepatnya kuda berlari, sebab penyerangan itu menuntut adanya kecepatan

puncak dalam berlari dan menuju musuh. Sedangkan bertolak dari Arafah ke Muzdalifah, dan dari Muzdalifah ke Mina, tidak dapat dikatakan sebagai penyerangan, bahkan

sebaliknya, sebab Nabi saw. memerintahkan kaum muslimin agar berjalan dengan tenang. Sedangkan ketenangan itu merupakan kebalikan dari penyerbuan. Demikianlah, menjadi

jelas sudah bahwa yang dimaksud dengan “demi yang berlari dan meringkik” itu adalah kuda, bukan unta. Wallahu a’lam. Dialah yang memberi taufik kepada kebenaran.