|
TAFSIR AYAT 1-10
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Membaca surah was-samaa’i dzaatil-buruuj dan was-samaa’i wath-thariq dalam shalat isya. Allah Ta’ala bersumpah dengan langit dan al-buruuj, yaitu bintang-bintang yang besar. Namun, Ibnu Jarir cendring untuk mengatakan bahwa dimaksud dengan al-buruuj ini adalah orbit-orbit matahari dan bulan.1 Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda,
“Hari yang dijanjikan itu (mau’uud) adalah hari kiamat. Yang menyaksikan itu (syahid) adalah hari jum’at. Tidak pernah matahari terbit dan terbenam dalam suatu hari yang lebih utama daripada hari jum’at. Padanya terdapat pada saat itu melainkan Allah akan mengabulkan. Dan, tidaklah memperlindungkan diri dari keburukan tepat pada saat itu melainkan Allah akan melindunginya. Dan yang disaksikan (masyhud) itu adalah hari Arafah.”
Allah Ta’ala berfirman, “Binasa dan terlanaknatlah orang-orang yang membuat parit.” Ukhdud bentuk mufrad dari jamak akhadid, yaitu parit yang ada di permukaan bumi. Ini merepakan berita tentang segolongan warga kuffat yang meneror orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala yang hidup di tengah-tengah mereka. Mereka berbuat sewenang-wenang dan menginginkan orang-orang yang beriman itu kembali ke dalam agama mereka. Namun, mereka tetap istiqamah sehingga dibuatlah sebuah parit di permukaan bumi untuk menghukum mereka. Lalu, mereka menyalakan api di sana dan mempersiapkan bahan bakar agar api itu tetap menyala. Kemudian, mereka bersikeras meminta orang-orang beriman kembali murtad, namun orang mukmin tetap menolak, yang pada akhirnya orang-orang beriman itu pun dilemparkan oleh mereka ke dalam parit yang berapi yang mempunyai kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang telah mereka perbuat terhadap orag-orang yang beriman. “Yaitu, menyaksikan perbuatan yang dialamatkan kepada orang-orang beriman tadi.
Allah SWT berfirman, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan kerena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Terpuji.” Yakni, orang-orang beriman itu tidak mempunyai kesalahan sedikit pun melainkan karena beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Perkasa yang tidak akan teraniaya orang yang melindungkan diri kepada kekuatan-Nya yang Maha Menghalangi dan Yang Maha Terpuji dalam semua tindak dan ucap, syariat, dan ketentuan-Nya. Walaupun telah ditakdirkan kepada hamba-hamba yang beriman tadi perihal kejadian yang menimpa mereka lewat tangan-tangan orang kafir, namun Allah tetap Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Meskipun sebabnya tidak diketahui oleh banyak orang. Kemudian firman Allah Ta’ala, “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi” merupakan sifat penyempurnanya bahwa Allah itu adalah Pemilik Tunggal semua langit, bumi, isi dan yang terdapat di antara keduanya. “Dan Allah MAha Menyaksikan segala sesuatu,” yaitu tidak ada sesuatu pun yang gaib bagi-Nya di langit maupun di bumi dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.
Para ahli tafsir berselisih pendapat mengenai asal mula kisah ini. Siapakah mereka? Beberapa orang meriwayatkan bahwa ketika ad-Sidi menafsirkan firman Allah SWT, “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit,” dia berkata, “Ketika itu jumlah parit ada tiga: satu di Irak, satu di Syam, dan satu lagi di Yaman. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Suhaib bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Ada seorang raja pada umat sebelum kamu. Dia mempunyai seorang oenyihir setia. Ketika usia oenyihir semakin senja, dia berkata kepada raja, ‘Usiaku sudah tua dan kematianku hampir tiba, pertemukanlah aku dengan seorang muda hingga aku ajarkan kepadanya ilmu sihirku.’ Raja itu pun segera mempertemukannya dengan seorang muda belia pesanannya dan diajarinya ilmu sihir. Namun di samping penyihir dan raja masih ada seorang rahib. Pemuda itu suka datang kepada rahib, dia mendengarkan ucapannya sehingga membuatnya kagum. Bila dia datang kepada penyihir, dia dipukul sambil ditanya, ‘Apa yang membuat kamu tidak datang belajar?’ dan bila kembali pulang bertemu keluarganya, mereka rahib. Rahib memberikan jalan keluar dan berkata, ‘Bila penyihir itu berhak memukulmu, katakanlah kepadanya, ‘Keluargakulah yang telah membuat aku tidak datang belajar.’ Dan bila keluargamu hendak memukulmu, maka katakanlah, ‘Aku belajar kepada penyihir itu hingga aku tidak pulang.’
Pada suatu hari, dia mendapati seekor binatang yang sangat mengerikan dan besar sehingga membuat orang-orang takut. Lalu dia mengambil batu dan berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib itu yang lebih Engkau cintai dan restui daripada perintah penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melewati jalan.’ Kemudian dia melemparnya dengan batu dan binatang itu mati dan orang-orang dapat berlalu. Dia menceritakan hal itu kepada rahib, lalu dia mengatakan, ‘Hai anakku, engkau lebih utama dariku. Engkau akan mendapatkan ujian. Bila hal terjadi, janganlah engkau memberi tahu bahwa aku gurumu.’ Pemuda itu ditakdirkan menjadi seorang ahli mengobati penyakit sopak, lepra, dan penyakit-penyakit lainnya. Kebetulan ada seorang ajudan raja yang buta. Dia mendengar berita tentang kepiawaian pemuda tadi. Segera dia menemuinya dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat banyak. Dia berkata, ‘Sembuhkanlah aku, engkau boleh mengambil semua yang aku bawa ini.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan mereka hanyalah Allah saja. Bila engkau beriman kepada-Nya maka Aku akan berdoa kepada Allah sehingga Dia akan menyembuhkanmu.’ Lalu ajudan itu beriman, pemuda pun berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menyembuhkannya.
Kemudian ajudan itu datang menjumpai raja, duduk di dekatnya sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Raja bertanya, ‘Hai fulan, siapa yang telah membuatmu dapat melihat kembali?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku.’ Tanya raja, ‘Aku?’ Ajudan menjawab, ‘Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu, Allah.’ Raja bertanya, ‘Engkau mempunyai Tuhan selain aku?’ Ajudan menjawab, ‘Benar. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’ Semenjak itu, tidak hentinya dia disiksa sehingga dia memberitahukan pemuda yang telah mendoakannya. Dia dijemput untuk menghadap raja. Katanya, ‘Hai pemuda, sihirmu dapat menyembuhkan penyakit sipak, lepra, dan penyakit-penyakit seperti ini?’ Pemuda menjawab, ‘Aku tidak pernah menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanya Allah.’ Raja tadi bertanya, ‘Aku?’ Jawab pemuda, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’ Maka dia disiksa terus-menerus sampai memberitahukan gurunya. Rahib dijemput untuk menghadap raja. Katanya, ‘Tinggalkanlah agamamu itu!’ Namun, dia tidak meu. Dia kemudian meletakkan gergaji di pertengahan kepalanya sehingga belahan tubuhnya jatuh ke tanah. Dia berkata kepada orang buta tadi, ‘Tinggalkanlah agamamu.’ Namun dia menolak. Dia segera meletakkan gergaji di pertengahan kepalanya dan kedua belahannya jatuh ke tanah. Lalu berkata kepada pemuda, ‘Tinggalkanlah agamamu.’ Namun, dia menolak. Kemudian dia dibawa pergi oleh beberapa orang ke gunung ini dan itu. Katanya, ‘Bila kalian telah sampai puncak gunung, bila dia meninggalkan agamanya, maka biarkanlah dia, namun bila tidak, maka gulingkanlah dia.’ Mereka pun pergi bersamanya. Tatkala telah sampai di puncak gunung, dia berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari dari mereka menurut kehendak-Mu.’ Kemudian gunung itu bergoncang, menggetarkan mereka, lalu mereka semuanya terguling.
Pemuda tadi dating lagi menghadap raja. Penasaran, raja bertanya, ‘Apa yang telah terjadi dengan pengawal kamu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.’ Kemudian raja mengutus beberapa orang untuk membawanya dalam perahu. Katanya, ‘Bila kalian telah sampai di tengah lautan, bila dia kembali dari agamanya maka biarkanlah dia, bila tidak maka tenggelamkan dia.’ Ketika mereka telah sampai di tengah lautan, pemuda tadi kembali berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka menurut kehendak-Mu.’ Mereka semua akhirnya tenggelam.
Pemuda itu dating lagi menghadap raja. Lalu ditanya, ‘Apa yang terjadi dengan para pengawalmu?’ Jawab pemuda, ‘Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.’ Kemudian dia berkata kepada raja, ‘Anda tidak dapat membunuhku kecuali bila Anda melaksanakan perintah saya. Bila Anda melaksanakannya maka Anda dapat membunuh saya, bila tidak, sampai kapan pun Anda tidak dapat membunuh saya. ‘Tanya raja, ‘Apa itu?’ Jawab pemuda, ‘Anda kumpulkan umat manusia pada satu lapangan. Kemudian, Anda salib saya di batang pohon kurma, lalu Anda ammmbil panah dari tabunnng kkkepunyaanku, setelah itu ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.’ ‘Maka bila Anda melakukannya, Anda pasti dapat membunuh saya.’ Raja segera melaksanakannya, kemudian melerakkan panah pada busur kepunyaannya, lalu mengatakan, ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.’ Panah itu melesat tepat mengenai pelipisnya. Lalu pemuda itu memegang anak panah dan mati. Ketika orang-orang menyaksikan ramai-ramai mengatakan, ‘Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu.’ Lalu dikatakanlah kepada raja, ‘Tidakkah Anda saksikan apa yang selama ini Anda khawatirkan? Demi Allah, sesungguhnya hal itu telah terjadi. Semua orang beriman kepada Allah.’ Raja memerintahkan untuk menggali tanah, lalu dibuat menjadi beberapa parit, lalu menyalakan api di sana. Dia berkata, ‘Barangsiapa yang kembali kepada agamanya, maka biarkanlah orang itu, bila tidak, masukkanlah dia ke sana.’ Mereka semua dipaksa dan didorong masuk ke sana. Datanglah seorang wanita dengan anak yang masih disusuinya, seolah-olah dia ragu-ragu masuk ke dalam api, namun anaknya berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku! Sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”
Cerita di atas diriwayatkan pula oleh Imam Muslim di akhir kitab Shahih-nya dari Hadbah bin Khalis dari Hammad bin Salamah. Demikian pula Imam Nasa’i meriwayatkannya secara ringkas. Hadits ini dinilai baik oleh Abu Isa Tirmidzi. Dikatakan bahwa raja tersebut bernama Dzu Nuwas. Negerinya adalah Najran. Para penduduknya telah masuk agama Nasrani. Sedangkan, Dzu Nuwas sendiri menganut agama Yahudi bersama para penduduk Yaman yang sama-sama menganutnya. Dan, karena mereka berpisah kepada agama Nasrani, dia pun segera membakar merea di dalam parit sehingga hanya dalam satu waktu pagi saja telah terbunuh sebanyak 20.000 orang. Tidak ada yang selamat kecuali satu orang, namanya Duz Dzu Tsa’laban. Dia berlari mengundang kuda dan dibuntuti oleh mereka, namun tidak terkejar. Dia pergi menghadap Kaisar, Raja Rum. Lalu menulis surat kepada Najasyi, Raja Habsyi. Dia segera mengirim bala tentara Nasrani Habsyi, akhirnya mereka menaklukkan kota Yaman dari penguasaan orang-orang Yahudi. Kendali kekuasaan tetap berada di tangan mereka sampai 70 tahun, kemudian ditaklukkan lagi oleh Saif bin Dzi Yazan warga Nasrani, ketika dia meminta bantuan kepada Kisra, Raja Persia. Dan, tampuk kekuasaan kembali ke tangan Himyar.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan,” dengan membakar mereka, “Kemudian mereka tidak bertobat.” Tidak meninggalkan kebiasaan mereka dan tidak menyesali perbuatan mereka, “maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar,” hal itu karena balasan Allah sesuai dengan jenis perbuatan yang telah dilakukan. Hasan Basri mengatakan, “Perhatikanlah kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para wali-Nya, sedangkan Dia mengajak mereka untuk bertobat dan memohon ampunan. Mahasuci Engkau, ya Allah. Betapa pemurah dan lemah lembutnya Engkau.
-------------------------------------------
1 Barangkali penafsiran Ibnu Katsir rahimahullah lebih mendekati kebenaran daripada penafsiran Ibnu Jarir karena nun jauh disana terdapat orbit-orbit selain orbit-orbit yang dilalui oleh matahari dan bulan, jumlah orbit itu hanya diketahui Allah Ta’ala. Dengan demikian, yang dimaksud dengan al-buruuj ‘bintang-bintang’ itu adalah semua bintang yang terdapat di langit. Sehingga, arti firman Allah “yang mempunyai gugusan bintang,” maksudnya adalah semua binatang yang ada di sana untuk menampakkan objek yang dijadikan sumpah.
|