Al–Infithaar (1-12) PDF Cetak Surel
Ditulis oleh admin   
Sabtu, 10 Oktober 2009 02:49

TAFSIR AYAT 1 – 12


An – Nasa'i meriwayatkan dari bahwa Jabir bin Abdillah r.a berkata, “Muadz berdiri kemudian shalat isya dan sangat memanjangkannya. Rasulullah saw. bersabda,

 

'Apabila kamu hendak menebarkan fitnah, hai Mu'adz? Mengapa kamu tidak membaca sabbihisma rabbikal a'la, wadhuha, dan iddzas samaa'un fatharat?'” ( Asal matan hadits ini terdapat dalam Bukhari dan Muslim. Akan tetapi, khusus untuk idzas samaa'un fatharat hanya disebutkan dalam riwayat An – Nasa'i. )

Allah Ta'ala berfirman, “Apabila langit terbelah, dan apabila bintang – bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap,” yaitu meluap sehingga airnya habis,” dan apabila kuburan – kuburan dibongkar,” yaitu dan keluarlah isinya. “maka tiap – tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan yang dilalaikannya.” Yaitu, bila semua peristiwa diatas terjadi, tahulah setiap jiwa apa yang telah dia kerjakan, yang baik dan yang buruk.

Allah Ta'ala berfirman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah sehingga kamu berbuat kemaksiatan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits,

 

“Allah akan berfirman di hari kiamat nanti, Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap-Ku? Hai Ibnu Adam, mengapa kamu tidak mengikuti para utusan?'”

Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dengan sanadnya dari Yahya al – Bakkaa, katanya, “Aku telah mendengar Ibnu Umar mengatakan, ketika beliau membaca yaa ayyuhal-insaanu maa qharraka birabbikal-kariim, katanya, ' Demi Allah, kebodohannya yang telah memperdayakannya.'” Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan yang lain, “Tidak ada yang memperdayakan anak cucu Adam kecuali musuh setaniah ini.” Abu Bakar al – Warraq berkata, “Kalau dia mengatakan kepadaku, 'Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?' Pastilah aku mengatakan, 'Kepemurahan Yang Maha Pemurah jualah yang telah memperdayakan aku.'” Hal ini dikatakan pula oleh sebagian ahli isyarat ( simbolistis ). Allah menyebutkan” Dengan Tuhanmu Yang Maha Pemurah”, tidak dengan nama – nama dan sifat – sifat – Nya yang lain, seolah – olah Allah sendiri telah mendiktekan jawabannya.4 Khalayan yang telah di kemukan oleh si pengucap ini tidak ada faedahnya karena Allah mengatakan dengan lafal al – Kariam hanyalah untuk mengingatkan bahwa kepemurahan – Nya itu tidak layak disambung dengan perbuatan – perbuatan yang jelek dan dosa. Apalagi ayat ini turun dialamatkan kepada al – Aswad bin Syariq yang telah memukul Nabi saw., namun tidak dihukum karena sedang genjatan senjata, kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat, “Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”

Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnkannya kejadianmu dan menjadikanmu seimbang. “Yaitu, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu yang telah menjadikan kamu dengan sempurna, istiqamah, postur yang seimbang ketika berdiri, dalam bentuk dan tipe yang paling baik.

Dan Allah SWT berfirman, “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” Ditegaskan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah,

 

“Seorang pernah berkata, 'Ya Rasulullah, istriku telah melahirkan bayi yang sangat hitam. 'Rasulullah saw. bertanya, 'Apakah kamu mempunyai unta?” Dia menjawab, 'Ya, aku punya. ' Tanya Rasulullah, ' Apa warnanya?' Dia menjawab, 'Merah.' Tanya Rasulullah, 'Apakah ada warna peraknya?' Dia menjawab, 'Ya, ada. 'Tanya Rasulullah, 'Dari mana dia punya warna itu?' Dia menjawab, 'Barangkali karena ada kecendurungan gen.' Rasulullah saw berkata, 'Dan, bayi ini pun barangkali ada kecendurungan gen,'”

 

Maksudnya, Allah SWT Maha Kuasa untuk membentuk nutfah dengan bentuk yang jelek sehingga menjadi hewan yang tidak disenangi. Akan tetapi, karena kekuasaan, kasih sayang, dan kelembutan – Nya, Dia pun tetap menciptakannya dengan bentuk yang baik, lurus, seimbang, dan sempurna, perawakannya sedap dipandang.

Allah Ta'ala berfirman, “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” Yaitu, sesungguhnya yang telah mendorong kamu menyambut dan membalas kepemurahan Allah dengan perbuatan maksiat itu hanyalah karena hati – hati kamu mendustakan hari berbangkit, hari pembalasan, dan hari perhitungan. Allah Ta'ala berfirman, “Padahal sesungguhnya bagi ada yang mengawasi. Yang mulia dan yang mencatat, mereka mengetahui yang kamu kerjakan.” Maksudnya, bagi kamu itu ada malaikat yang selalu menjaga dan mulia, maka janganlah kamu sambut mereka dengan perbuatan – perbuatan yang jelek, karena mereka akan menuliskan bagi kamu semua perbuatan yang kamu lakukan.



4 Perkataan Ibnu Katsir “ahli isyarat”,maksudnya ialah mereka yang berpaham bahwa Tuhan dapat menitis kepada benda dan union mystic. Amaereka inilah yang menimpakan bencana paling hebat kepada Islam. Perhatikanlah dengan saksama wahai saudaraku sesama muslim, apa yang telah dikatakan mereka, “ Kepemurahan Yang Maha Pemurah jualah yang telah memperdayakan aku.” Dan perkataan mereka, “ Seolsh – olah Allah sendiri telah memberikan jawabannya.” Sesungguhnya perkataan – perkataan yang seperti ini tidak akan dimasukan ke dalam hati sanubari kecuali oleh setan sehingga mendorongnya untuk melakukan kemaksiatan karena berpegang kepada kepemaafan Allah Yang Maha Pemurah. Pemikiran seperti ini mendorong setiap abdi Allah berbuat kemaksiatan dengan tenang disertai harapan akan memperoleh maaf dari Allah. Padahal, kepemurahan Allah tampakdalam setiap nikmat – Nya Yang Maha Besar, yang tidak dapat dihitng dan dibilang dan nikmta yang dirasakan oleh umta manusia dan diterima dalam setiap ksempatan mengharuskan untuk menyambut semua kepemurahan ini dengan dengan meninggalkan baju kemaksiatan, bukannya berkubang terus menerus di dalamnya sehingga bertemu Allah dalam keadaan seperti itu. Apakah keantusiasan Anda terhadap kemurahan Allah Ta'ala ini dilakukan dengan cara membalas semua kenikmatan ini dengan kekufuran , bukan dengan bersyukur ? Anda harus menyelami kembali hati Anda seraya mengatakan, “Bukan merupakan suatu keadilan bila aku membalas segala kenikmatan ini dengan kemaksiatan dan kepemurahan ini dengan pengingkaran.” Dan bila Anda menerima kepemurahan ini dari sesama makhluk, pastilah Anda akan merasa malu, sebab kebaikan dibalas dengan kejahatan. Maka dari itu, apalagi kebaikan yang telah diberikanoleh Allah Tuhan semesta alam? Maka kebaikan, kemurahan, dan kenikmatan adalah pendorong – pendorong untuk segera bertobat dan mencabut baju kemaksiatan, bukan berkubang terus menerus di dalamnya, hanya karena mengharapkan kepemurahan Yang Maha Pemurah ! Inilah yang dimaksud firman Allah SWT, “Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah.” Maksudnya, bukan seperti yang diembuskan setan kepada golongannya ( ahli isyarat ). Semoga Allah menghinakannya dan menghinakan kelompok mereka serta memelihara kita dari kejahatan mereka dan kejahatan isyarat – isyarat mereka. Hanya Yang lebih tahu. Dan Dialah yang akan mengantarkan kepada kebenaran.

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 25 Oktober 2009 09:51