|
TAFSIR Ayat 1 – 14
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang ingin sekali melihat suasana kiamat sebagaimana dia dapat melihatnya dengan mata telanjang, bacalah surah idzasy-syamsu kuwwirat, idzas-samaa'un fatharat, dan idzas-samaa'un syaqqat.” ( Hadits ini turut pula diriwayatkan oleh ImamTirmidzi )
Firman Allah SWT, “Apabila matahari digulung.” Yang dimaksud dengan bagian at-takawwur ialah mengembalikan sebagian untuk disatukan dengan bagian yang lainnya. Dari sini lahirkan ungkapan takwirul 'amamah 'menggulung sorban' dan jam'uts tsiyah 'memadukan baju'. Maka, arti firman Allah kuwwira' dilemparkan. Bila hal ini telah dilakukan maka akan sirnalah cahaya matahari seketika itu juga.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda,
“Matahari dan bulan akan disatukan di hari kiamat nanti.”
Selanjutnya firman Allah Ta'ala , “Dan apabila bintang – bintang berjatuhan,” yaitu berguguran, sebagaimana firman – Nya, “Dan apabila bintang – bintang berguguran.” Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman, “Dan apabila gunung – gunung dihancurkan,” yaitu dihilangkan dari tempat – tempatnya dan dijadikan debu yang dihamburkan sehingga permukaaa bumi pun menjadi tidak bertumbuhan dan rata.
Allah berfirman, “Dan apabila unta – unta yang bunting ditinggalkan,” yaitu disia – siakan begitu saja oleh pemiliknya dan dilalaikan oleh orang – orang, tidak mau menanggungnya dan tidak memanfaatnya, padahal sebelumnya mereka adalah orang – orang yang paling menginginkannya. Hal itu karena ada lagi urusan yang lebih penting bagi mereka, yaitu urusan yang mahaagung, mengagetkan, dan mengerikan, yaitu urusan hari kiamat. Al-'isyar itu adalah unta. Tidak ada lagi istilah lain menurut ulama selain istilah ini. Wallahu 'alam.
Firman Allah Ta'ala, “Dan apabila binatang – binatang liar dikumpulkan” adalah seperti firman – Nya, “Dan tiadalah binatang – bintang yang ada di bumi dan burung – burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat – umat ( juga ) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun didalam al – Kitab, kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan.” Ibnu Abbas berkata, “Segala sesuatu akan dikumpulkan kembali, tak terkecuali lalat.” Allah Ta'ala berfirman, “Dan apabila lautan dipanaskan.”
Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa dia pernah berkata kepada seorang Yahudi, “Dimanakah nereka Jahannam itu?” Dia menjawab, “Di dalam lautan.” Ali berkata, “Aku tidak menilai perkataanya itu kecuali dia benar berkata.” “Demi lautan apabila dinyalakan.” Ibnu Abbas dan yang yang lain mengatakan, “Kepada lautan itu Allah mengirimkan angin barat lalu, lalu menyalakannya dan jadilah api yang bergelegak. Telah diuraikan hal ini dalam tafsir firman Allah Ta'ala, “Demi lautan yang dinyalakan.”
Sehubungan dengan firman Allah Ta'ala, “ Dan apabial ruh – ruh dipertemukan,” Mujahid mengatakan bahwa manusia – manusia akan dikumpulkan sesuai dengan jenis masing – masing. Penafsiran inilah yang menjadi pegangan Ibnu Jarir. Dan memang benar. Namun, diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai fatwanya, “Bahwa ruh – ruh akan dikawinkan dengan jasad – jasad. Dan itulah yang dimaksud dengan firman Allah, 'yaitu apabila ruh – ruh dipertemukan.' “Hal ini dikatakan pula oleh Abdul Aliah, Ikrimah, Sa'id bin Jubair, dan Sya'bi. Hasan Basri mengatakan, “Yaitu ruh dikawinkan dengan badan – badan.”
Allah Ta'ala berfirman, “Apabila bayi – bayi perempuan yang dikubur hidup – hidup ditanya karena dosa apakah dia dibunuh.”Al – mau'udah ialah bayi – bayi yang dikuburkan hidup – hidup oleh kaum jahiliah karena benci punya anak perempuan. Maka, pada hari kiamat nanti akan ditanya karena dosa apakah mereka dibunuh? Agar hal ini menjadi ancaman bagi orang yang pernah melakukannya, sebab bila pihak yang dizalimi ditanya, maka apakah gerangan pikiran pihak yang telah menzaliminya? Dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ditanya ialah dituntut balasan darahnya.
Diriwayatkan oleh Abdur Razaq dengan sanadnya dari Umar bin Khaththab r.a. tentang firman Allah Ta'ala, “Yaitu apabila bayi – bayi perempuan yang dikubur hidup – hidup ditanya,” Dia mengatakan,
“Qais bin Ashim menghadap Rasulullah saw. dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku telah mengubur hidup – hidup delapan anak wanitaku di masa Jahiliah.' Rasulullah saw. bersabda, 'Merdekakanlah satu orang hamba sahaya untuk setiap anak yang telah dikubur itu.' Dia berkata, 'Ya Rasulullah, aku ini seorang penggembala unta.' Rasulullah saw. bersabda, 'Bila kamu mau, hadiahkanlah satu ekor unta untuk masing – masing anakmu itu.'”
Dan Allah Ta'ala berfirman, “Dan apabila langit dilenyapkan,” adh – Dhahak berkata, “Disingkapkan kemudian lenyap.” Dan Allah Ta'ala berfirman, “Dan apabila neraka Jahim dinyalakan,” as-Sidi mengatakan, “Dipanaskan.” “Dan apabila surga didekatkan,” yaitu didekatkan kepada calon – calon penghuninya. Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman, “Maka tiap – tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Inilah jawaban dari serentetan “apabila” diatas. Yaitu, bila semua perkara diatas itu terjadi maka setiap jiwa akan mengetahuinya apa yang ia telah perbuat dan semuanya itu akan diperlihatkan kepadanya. Hal ini sebagaimana firman – Nya, “Pada hari ketika tiap – tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan, begitu juga kejahatan yang telah dilakukannya; ia ingin kalau sekiranya antara ia dan hari itu ada masa yang amat jauh.” Dan seperti firman Allah, “Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya.
Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, katanya, “ Ketika turun ayat 'apabila matahari digulungkan', maka tatkala Umar sampai kepada 'alimat nafsun ma ahdlarat, dia berkata, 'Karena inilah kejadian penguburan itu.'”
|