Abasa (1-16) PDF Cetak Surel
Ditulis oleh admin   
Sabtu, 10 Oktober 2009 02:36

TAFSIR Ayat 1 - 16

 

Diterangkan oleh beberapa kalangan mufassir, “ Pada suatu hari, Rasulullah saw. berdialog dengan beberapa orang pembesar Quraisy. Dalam riwayat Anas bin Malik r.a. disebutkan, pembesar itu bernama Ubay bin Khalaf. Menurut riwayat Ibnu Abbas, mereka adalah Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau sangat sering melayani mereka dan sangat menginginkan agar mereka beriman. Tiba – tiba, datang kepada beliau seorang laki – laki buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Mulailah Abdullah meminta Nabi saw. untuk membacakan beberapa ayat Al – Qur'an kepadanya dan berkata, ' Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang Allah ajarksn kepada engkau.' Rasulullah saw. Berpaling darinya dengan wajah masam, menghindar dan tidak suka berbicara dengannya, lalu melanjutkan dialog dengan orang lain. Setelah usai melaksanakan urusannya, Rasulullah saw. pun kembali pulang, tiba – tiba Allah menurunkan menahan pandangannya dan menundukkan. Selanjutnya Allah menurunkan ayat, ' Dia bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ignin membersihkan dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat.' Keberpalingan itu karena Rasulullah saw. sangat menginginkan kalau sesaat saja saat itu dihentikan pastilah dia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara di hadapan para pembesar tersebut, sebab beliau sangat mengharapkan mereka mendapatkan hidayah.”

Firman Allah SWT, “ Dia bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya,” artinya dia akan mendapat hati yang bersih dan suci,” atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu bermanfaat kepadanya,” yaitu dia dapat menjadikannya sebagai nasihat dan penengah dari perbuatan – perbuatan haram.” Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka melayaninya.” Yaitu, adapun orang kaya dan menyombongkan diri dari dakwahmu, maka kamu selalu begitu selalu terbuka kepadanya dengan harapan dia mendapatkan petunjuk,” padahal tidak ada ( celaan ) atasmu kalau dia tidak mau membersihkan hatinya.” Yaitu, “ padahal kamu tidak diminta untuk melakukan itu kalau dia tidak mau membersihkan hatinya. “ Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegara, sedang dia takut kepada Allah,” yaitu dia menuju ke arahmu dan menginduk kepada kamu agar dia mendapatkan petunjuk dari dakwah kamu, “ maka mengabaikannya,” yaitu berpura – pura tidak sempat. Dari sini Allah Ta'ala memperintahkan Rasul – Nya agar memberikan peringatan dengan tidak mengkhususkan orang per orang, akan tetapi disamaratakan semuanya. Kemudian Allahlah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus bagi siapa saja yang Dia dikehendaki. Setelah Nabi mendapat teguran itu, beliau sangat menghormati keberadaan Abdullah bin Maktum. Dan, Ibnu Ummi Maktum ini adalah seorang muadzin Nabi saw.. Beliau bersabda,

 

“ Sesungguhnya Bilall itu azan di tengah malam. Karenanya, makan dan minumlah sehingga kamu dapat mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”

 

Mengenai namanya, yang paling masyhur adalah Abdullah, namun ada juga yang mengatakan namanya Amar. Wallahu a'lam

Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman,” Sekali – kali jangan. Sesungguhnya ajaran – ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. “ Yang dimaksud dengan ajaran – ajaran Tuhan disini adalah sura iniatau wasiat untuk menyamakan sikap terhadap semua orang, dalam menyampaikan ilmu, antara golongan atas dan golongan bawah.

Allah SWT berfirman,” Barangsiapa yang menghendaki, tentulah dia memperhatikannya, di dalam kiktab – kitab yang dimuliakan,” yaitu surah atau nasihat ini, dan kedua – duanya diabadikan bahkan seluruh isi Al – Qur'an dalam mushaf yang dimuliakan, artinya diagungkan dan dihormati,” yang ditinggikan,” yaitu mempunyai kedudukan dan derajat yang sangat tinggi “ lagi disucikan” dari berbagai macam noda, pengurangan, dan penambahan. Allah Ta'ala berfirman, “ Di tangan para duta, “maksudnya adalah para malaikat yang menjadi duta anatara Allah dan para abdi – Nya. Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman, “ Yang mulia lagi berbakti, “maksudnya akhlak mereka sangat mulia dan perbuat-an mereka sangat baik dan suci. Atas dasar ini sangat dianjurkan bagi para penyandang Al - Qur'an agar perbuatan dan ucapannya berada diatas keseimbangan dan bimbingan.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Orang yang membaca Al – Qur'an dan dan ia ahli adalah bersama para duta mulia lagi berbakti. Sedangkan, yang membacanya dan dia merasa kesulitan, maka dia akan mendapatkan dua pahala.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh al – Jamaah dari jalan Qatadah.


Tafsir Terbaru

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 25 Oktober 2009 09:53