An-Naba (37-40) PDF Cetak Surel
Ditulis oleh admin   
Sabtu, 10 Oktober 2009 02:20

TAFSIR Ayat 37 – 40


AllahTa'ala mengabarkan tentang keagungan dan kemuliaan – Nya dan bahwa Dia adalah Rabb langit dan bumi, serta isinya dan apa yang terdapat diantara keduanya. Dan bahwa Dia adalah Maha Pemurah yang kepemurahannya mencakup segala yang ada. Dan Allah berfirman, “ Mereka tidak dapat berbicra dengan Dia.” Yaitu, tidak ada seorang pun yang memulai pembicaraan kecuali dengan seizin – Nya, sebagaimana firman – Nya, “ Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin – Nya.”

Firman Allah SWT, “ Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri – diri bershaf – shaf.” Para ahli tafsir berselisih pendapat mengenai pengertian ruh disini, apakah itu? Ada yang berpendapat, “ Dia adalah ruh – ruh anak cucu Adam.” Yang lain berpendapat, “ Dia adalah anak cucu Adam itu sendiri. Yang lain lagi berpendapat, “ Makhluk yang bukan keturunan Adam, namun satu serupa dengan mereka.” Pendapat lain, “ Dia adalah Jibril.” Dan pendapat terakhir mengatakan, “ Dia adalah Al – Qur'an.”

Selanjutnya AllahTa'ala berfirman, “ Mereka tidak berkata – kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.” Ditegaskan dalam hadits shahih Rasulullah saw. Bersabda :

“ Dan tidak ada yang berbicara di hari itu melainkan para utusan saja.”

Allah SWT berfirman, “ Dan dia mengucapakan kata yang benar.” Kemudian AllahTa'ala berfirman, “ Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu siksa yang dekat,” yaitu pada hari kiamat, karena sudah pasti terjadi sehingga diistilahkan dengan dekat. “ Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya,” yaitu akan diperlihatkan kepadanya semua yang telah diperbuatnya, yang baik dan yang buruk, sebagaimana firman – Nya, “ Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya.” ( al – Qiyaamah : 13 ).

“ Dan orang kafir berkata, ' Alangkah baiknya sekiranya aku adalah tanah.' “ Telah dituliskan beberapan atsar dari Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat yang lain bahwa mereka mengatakan hal itu ketika Allah memberikan keputusan kepada hewan – hewan sehingga kambing yang tidak bertanduk menuntut qishash dari kambing yang bertanduk. Setelah usai penghukuman mereka barukah dikatakan, “ Jadilah kamu tanah kembali.” Maka semua hewan dijadikan tanah. Mereka berkata, “ Alangkah baiknya sekiranya aku adalah tanah.” Pemaknaan seperti ini telah ditegaskan pula dalam hadits mengenai gambar yang cukup masyhur.


Tafsir Sebelumnya:

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 25 Oktober 2009 09:45